Sekolah Berasrama: Penyesuaian Diri Menuju Kemandirian

Ratih Eminiar Permatasari & Veronica Anastasia Melany Kaihatu

Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

Ratih Eminiar Permatasari

Salah satu bentuk sekolah adalah sekolah berasrama. Lalu, bagaimana kehidupan mereka? Bersekolah di sekolah berasrama adalah salah satu pengalaman keluar dari lingkungan rumah dan memasuki lingkungan baru, secara menyeluruh. Mereka bangun pagi sampai dengan tidur kembali di lingkungan yang kurang-lebih sama, jauh dari orang tua, harus bergaul dengan teman yang memiliki latar belakang yang berbeda serta menjalani peraturan-peraturan khusus asrama. Mereka juga memiliki tanggung jawab yang lebih menyeluruh karena tidak hanya terkait kegiatan belajar-mengajar tetapi juga kehidupan sehari-hari seperti mandi, makan, mencuci, beristirahat sampai dengan tidur. Bila tidak dihadapi dengan tepat, situasi ini dapat menekan individu dan menjadi penyebab munculnya berbagai permasalahan.

Sekolah merupakan salah satu tempat yang dapat digunakan oleh remaja untuk mengeksplorasi dirinya. Seorang remaja yaitu yang berada dalam level sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) dan biasanya banyak menghabiskan waktunya di sekolah yang menyediakan berbagai kesempatan untuk membina relasi dengan individu lain, terutama yang sebaya. Selain itu, sekolah juga menyediakan berbagai kegiatan terkait minat dan hobi, baik dalam segi akademis maupun nonakademis seperti kegiatan ekstrakulikuler atau kegiatan organisasi sehingga remaja semakin dapat mengeksplorasi diri dan lingkungannya. Kesempatan ini jauh lebih banyak ketika mereka tinggal di sekolah berasrama.

Ilmu psikologi bilang, manusia akan melewati tahap-tahap perkembangan sepanjang hidupnya dan masing-masing tahap memiliki karakteristik yang berbeda. Salah satu dari tahap perkembangan tersebut adalah tahap perkembangan remaja, ilmuan Psikologi biasanya menetapkan antara usia 12 hingga 21 tahun. Kata Santrock (2011) pada tahap ini terjadi transisi emosi dan kognisi yang dibarengi dengan aktivitas dan dorongan dalam diri individu untuk bereksplorasi, baik diri sendiri maupun lingkungan. Jadi individu remaja akan mencoba berhadapan dengan berbagai hal demi mencari arah dan tujuan hidupnya. Nah para remaja juga akan menjalin relasi dengan individu lain yang dianggap penting serta mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Nah penting tuh untuk remaja mengeksplorasi hal ini dalam rangka mencari jati dirinya.

Namun kehidupan di asrama juga memiliki tantangan lho. Remaja akan mampu menghadapi kehidupan di asrama jika dapat penyesuaian diri dengan baik, yaitu proses psikologis untuk menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. Penyesuaian diri mencakup 3 hal, yaitu: upaya adaptasi (adaptation), mengatasi tekanan (coping), dan mengelola diri sendiri (Santrock, 2006). Adaptasi diartikan sebagai usaha mengubah diri – misalnya kebiasaan atau sifat – agar sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan yang muncul dari lingkungan. Coping diartikan sebagai usaha untuk mengatasi stres dengan cara-cara yang sehat, sedangkan pengelolaan diri diartikan sebagai kemampuan untuk mengatur hasrat, keinginan dan tindakan untuk mencapai tujuan atau target tertentu.

Dalam rangka penyesuaian diri, individu remaja perlu menyediakan waktu khusus untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya terkait situasi dan kondisi yang baru dalam hal ini asrama. Apa saja peraturan dasar di asrama? Apa saja hak dan kewajiban anggota asrama? Apa yang harus dilakukan bila muncul masalah, misalnya sakit, kecelakaan atau kangen rumah? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini perlu dijawab sebelum masuk asrama.

Kemampuan masing-masing individu untuk melakukan penyesuaian diri sangat mungkin berbeda. Ada remaja yang mudah beradaptasi dan mengatasi tekanan namun sulit untuk mengelola diri sendiri. Ada pula yang dapat dengan yang mudah melakukan ketiga proses tersebut atau justru sebaliknya.

Jika tremaja yang belum berhasil menyesuaikan diri akan cederung menutup diri, jarang bergaul, memiliki rasa cemas yang tinggi dan kurang percaya diri. Kehidupan di asrama pasti akan memunculkan kesulitan tertentu bagi seorang remaja. Namun, ia dapat memperoleh bantuan dari orang lain yang juga tinggal di lingkungan asrama tersebut. Guru, pengelola asrama atau senior asrama dapat membantu siswa atau siswi agar berhasil menyesuaikan diri.

Agar remaja sukses beradaptasi dilingkungan asrama, maka guru dan pengelola asrama bisa diposisikan sebagai wali sementara yang menggantikan posisi orang tua. Sementara itu, senior asrama diposisikan sebagai kakak yang telah terlebih dahulu berhasil menjalani proses penyesuaian diri dan kini menjadi pemandu agar dapat menjalani keberhasilan yang sama. Mereka ini merupakan lingkungan yang dapat menyediakan dukungan, dapat berupa nasihat, motivasi yang dapat membentuk diri yang mandiri, percaya diri, berjiwa pemimpin dan disiplin.

 

Daftar Referensi

Santrock, J. W. (2006). Human adjustment. Boston: McGraw-Hill.

Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development. (13th ed.). New York: McGraw Hill.

Volume 1, Nomer 1
Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *